Page 22 - Konsep Final Disertasi Agung S. 23 April 2024
P. 22

Parent Stocks/GGPS dan Grand Parent Stocks/GPS) dan kelangkaan produk zat aditif
              (premiks, suplemen pakan atau aditif pakan).
                    Peternak ayam broiler mengalami kerugian yang cukup besar yang disebabkan
              oleh penumpukan ayam dikandang, sementara permintaan pasar daging ayam menurun
              drastis, sehingga terjadi kelebihan produksi (oversupply) dan menyebabkan terjadinya
              penurunan harga yang signifikan disamping penurunan permintaan ayam broiler yang
              sangat tinggi (Sembada et al, 2021). Meskipun demikian, daya tahan (resiliensi) industri
              perunggasan relatif kuat terhadap dampak negatif yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-
              19  dibandingkan  komoditas  daging  lainnya.  Kondisi  pemulihan  ekonomi  diekspektasi
              dapat mengakselerasi peningkatan produksi daging ayam di Indonesia. Perkembangan
              produksi ayam broiler di Indonesia juga menunjukkan kinerja pemulihan yang kondusif
              meskipun  belum  dapat  menyamai  kondisi  pra  pandemi.  Pada  tahun  2019,  produksi
              daging ayam broiler mencapai 3,50 juta ton. Pada saat pandemi tahun 2020, produksi
              daging  ayam  broiler  mengalami  penurunan  menjadi  3,22  juta  ton  dan  kemudian
              mengalami peningkatan di tahun 2021 menjadi 3,43 juta ton (BPS 2022).
                    Pasokan ayam broiler dipengaruhi oleh DOC, jumlah populasi ayam broiler siap
              panen,  pemotongan  ayam  broiler,  tingkat  produktivitas  ayam  broiler,  pertumbuhan
              penduduk,  net  migrasi,  kebutuhan  hari  raya  dan  kebutuhan  industri  olahan  produk
              unggas (Atmaja et al, 2019). Distribusi ayam broiler ditentukan kinerja rantai pasok dalam
              rangka  memenuhi  kebutuhan  konsumen.  Kinerja  rantai  pasok  untuk  memenuhi
              kebutuhan pelanggan melalui ketersediaan produk, harga dan pengiriman yang tepat
              waktu. Rantai pasok unggas umumnya dimulai dari perusahaan pembibitan (GPS-PS-
              FS) - distributor DOC – peternak – distributor live bird (broker) –rumah potong ayam –
              pedagang besar/kecil - konsumen akhir (Salim et al, 2020). Rantai pasok merupakan
              suatu  konsep  yang  didalamnya  terdapat  sistem  pengelolaan  yang  berkaitan  dengan
              aliran  produk,  aliran  informasi  harga  maupun  aliran  keuangan  (Emhar  et  al,  2014).
              Hubungan antar pelaku rantai pasok yang berjalan baik dapat mendukung efektivitas
              rantai pasok secara keseluruhan, sebaliknya hubungan yang tidak berjalan dengan baik
              antar  pelaku  rantai  pasok  dapat  mengganggu  efektivitas  rantai  pasok  secara
              keseluruhan  (Janvier-James,  2012).  Kinerja  rantai  pasok  ayam  broiler  menentukan
              harga ayam siap potong (live bird) di tingkat peternak dan karkas ayam broiler di tingkat
              konsumen.
                    Harga  ayam  broiler  ditingkat  peternak  periode  2017  sampai  dengan  2022
              menunjukan  fluktuasi yang cukup tinggi, dengan kisaran harga antara Rp.  14.463/kg
              sampai dengan Rp. 23.511/kg (PIP Ditjen PKH, 2022). Permasalahan yang dihadapi
              dalam  rantai  pasok  ayam  broiler  adalah  terjadinya  fluktuasi  harga  (kenaikan  atau
              penurunan)  secara  tiba-tiba  yang  sulit  diprediksi  oleh  produsen/peternak,  pedagang
              maupun konsumen. Keadaan seperti ini sering menimbulkan kecemasan bagi semua
              pemangku kepentingan pelaku agribisnis peternakan ayam broiler. Fluktuasi harga ayam
              broiler  disebabkan  karena  ayam  broiler  merupakan  pangan  yang  mudah  rusak
              (perishable food) dan suplainya tidak elastis sehingga sangat sensitif terhadap harga.
              Sedikit  saja  keseimbangan  supply  dan  demand  terganggu,  maka  akan  menimbulkan
              fluktuasi harga. Pada saat panen suplai melimpah, demand tetap maka harga cenderung
              turun, sebaliknya pada saat paceklik, suplai menipis, demand tetap (apalagi meningkat)
              harga cenderung naik. Suplai tidak elastis berarti tidak dapat memanfaatkan peluang
                                                    4
   17   18   19   20   21   22   23   24   25   26   27