Page 53 - Konsep Final Disertasi Agung S. 23 April 2024
P. 53
respon masyarakat terhadap dampak bahaya (Syam et al., 2019). Akibatnya, biaya
produksi dan harga jual meningkat yang memberikan tekanan tinggi kepada konsumen
daging unggas (Weersink et al, 2020). Dampak kekurangan pasokan ayam broiler akibat
pandemi Covid-19, secara teori, dapat menyebabkan terjadinya kenaikan harga ayam
broiler, baik ayam broiler hidup ataupun karkasnya. Harga merupakan salah satu
indikator dalam suplai dan permintaan barang selain kuantitas (Mahardini and Woyanti,
2012; Arif et al., 2014). Harga, pada dasarnya, adalah elemen di dalam marketing mix
yang sifatnya fleksibel dan dapat berubah sewaktu-waktu dan lokasinya. Harga tidak
hanya angka-angka yang tertera dilabel dikemasan atau rak-rak toko, tapi harga memiliki
banyak bentuk dan fungsi. Harga dapat didefinisikan secara sempit sebagai jumlah uang
dibebankan untuk produk atau layanan (Kotler dan Armstrong, 2008). Harga adalah nilai
moneter yang ditentukan oleh perusahaan sebagai imbalan atas barang atau jasa yang
diperdagangkan dan hal lain yang dimiliki oleh perusahaan untuk memuaskan keinginan
pelanggan (Jodi et al., 2022). Dengan demikian, harga dapat berubah tergantung pada
suplai dan demandnya, termasuk pada masa pandemi Covid-19.
Terjadinya kelangkaan suplai ayam broiler menjadi sinyal terjadinya kenaikan
harga karkas ayam dipasaran. Karkas ayam merupakan komoditas turunan dari ayam
broiler setelah dilakukan proses pemotongan dan pengolahan lebih lanjut, seperti
pencabutan bulu; pengeluaran viscera dan organ lainnya di dalam tubuh, kepala dan kaki
dipotong (Londok et al., 2017; Lokman et al., 2011; Davoodi and Ehsani, 2020).
Kurangnya pasokan ayam broiler dan karkas ayam karena terhambatnya sistem
distribusi barang akibat protokol kesehatan. Akan tetapi, seiring dengan penurunan
kasus Covid-19 dan pelonggaran pembatasan, roda ekonomi pun kembali berjalan,
termasuk industri ayam broiler dan karkas ayam. Suplai ayam broiler kembali lancar dan
permintaan ayam broiler kembali meningkat, sehingga harga ayam broiler dan karkas
ayam mulai mengalami penurunan. Penurunan harga karkas ayam menjadi sinyal positif
bagi pemerintah karena dapat menekan angka inflasi. Sebagai mana diketahui bahwa
daging ayam dalam bentuk karkas telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai komoditas
pangan strategis yang harus dipantau fluktuasi dan disparitas harganya.
Komoditas pangan strategis merupakan komoditas pangan yang memiliki
pengaruh yang sangat kuat dalam pembentukan angka inflasi (strategis), terutama terkait
angka inflasi yang dipengaruhi oleh gejolak harga dalam kelompok barang seperti bahan
makanan atau volatile food (Winarso, 2013; Firdaus, 2021). Kelangkaan pada komoditas
pangan strategi dapat menyebabkan stabilitas harga tidak terjaga dan bisa
menyebabkan terjadinya inflasi. Oleh karena itu, pemerintah berupaya agar komoditas
pangan strategis, seperti daging ayam pasokannya tetap dijaga (Ilham et al., 2006).
Stabilitas harga ayam broiler menjadi fokus perhatian pemerintah sehingga
apabila terjadi fluktuasi dan disparitas harga, pemerintah turut campur tangan untuk
melakukan stabilisasi harga. Fluktuasi harga merupakan naik turunnya harga komoditas
diakibatkan oleh tidak seimbangnya antara jumlah pasokan dan jumlah permintaan yang
dibutuhkan konsumen (Irawan, 2007; Nauly, 2016). Umumnya di Indonesia, harga
komoditas pangan sering terjadi flutuasi, seperi beras, jagung, kedelai, gula pasir, minyak
goreng, bawang merah, cabai, telur, daging sapi, daging ayam, dan susu (Sumaryanto,
2009). Komoditas pangan sangat terpengaruh oleh cuaca, penyakit, atau terlambatnya
pasokan karena cuaca atau faktor lainnya, hal ini dapat menyebabkan kegagalan panen
35

