Page 73 - Konsep Final Disertasi Agung S. 23 April 2024
P. 73

dan  globalisasi  sistem  rantai  nilai  sehingga  penguasaan  sektor  agribisnis  di  seluruh
              rantai nilai, dari hulu hingga hilir.
                    Industri perunggasan, khususnya industri ayam broiler, telah menerapkan vertical
              integration  untuk  aktivitas  bisnisnya,  seperti  produksi,  transaksi,  dan  pasar  (Tey  and
              Asril, 2018; Adams et al, 2016). Bentuk integrasi ini merupakan bentuk umum untuk
              industri  ayam  broiler  secara  global,  baik  yang  dilakukan  di  negara  maju  ataupun  di
              negara  berkembang  (Barbut,  2016;  OECD,  2018).  Bentuk  integrasi  vertikal  ini
              membangun sistem produksi hulu-hilir yang melingkupi  seluruh aktivitas input produksi
              (day  old  chick/DOC  dan  pakan),  proses  produksi  atau  budidaya  ayam  broiler  hingga
              ayam broiler diolah menjadi produk siap konsumsi (Mongilala et al, 2016).
                    Dalam industri ayam broiler terdapat empat rangkaian produk yang satu sama lain
              berhubungan  secara  vertikal  dari  industri  hulu  hingga  hilir,  yakni  industri  pembibitan
              (breeding farm), industri pakan ternak (feed mill), industri budidaya ayam broiler, 3. Di
              samping itu, industri ini ditunjang oleh industri obat-obatan hewan, peralatan dan mesin
              peternakan, pengolahan hasil, dan pemasaran. Karakteristik dasar bisnis broiler adalah
              sebagai industri biologi (the nature of poultry business) yang mempunyai implikasi pada
              tuntutan  pengelolaannya  (governance),  yang  akan  berpengaruh  terhadap  struktur
              (structure), perilaku (conduct), dan kinerja (performance) industri peunggasan terutama
              ayam  ras  broiler  (Saragih,  2020).  Sistem  integrasi  ini  menghasil  suatu  sistem  rantai
              pasok yang mengintegrasikan setiap pelaku yang ada didalamnya.
                    Sistem rantai pasok merupakan kombinasi dan koordinasi aliran pasokan yang
              dimulai dari bahan-bahan mentah diproses menjadi produk akhir dan disampaikan ke
              konsumen  akhir  (Pienaar,  2009;  Javier-James,  2012).  Rantai  pasok  merupakan
              kelompok  atau  satu  set  perusahaan  (manufaktur,  suplier,  distributor,  retail  dan
              transportasi, informasi dan layanan provider manajemen logistik lainnya yang terikat,
              baik  dalam  internal  atau  eksternal  perusahaan,  dalam  menyediakan  barang  ke
              konsumen  (Chow  et  al,  1994;  Mentzer  et  al,  2001).  Rantai  pasok  merupakan  suatu
              konsep  yang  didalamnya  terdapat  sistem  pengelolaan  yang  berkaitan  dengan  aliran
              produk,  aliran  informasi  maupun  aliran  keuangan  (Emhar  et  al.,  2014).  Artinya,
              persyaratan terjadinya rantai pasok adalah adanya aliran produk, informasi, dan aliran
              finansial.  Terbentuknya  rantai  pasok  adalah  dalam  rangka  efisiensi  (Ilham,  2015;
              Saptana dan Yofa, 2016). Oleh karena itu, hubungan antarpelaku rantai pasok harus
              satu kesatuan yang terafiliasi agar efisiensi bisa berjalan dengan baik (Janvier-James,
              2012).
                    Pelaku rantai pasok ayam broiler di Indonesia terdiri dari perusahaan integrasi
              atau perusahaan pembibitan grand parents stock (GPS), perusahaan pembibitan parents
              stock (PS), dan pelaku usaha budidaya final stock (FS) yang terdiri dari perusahaan
              integrasi, peternak mitra integrasi, pelaku usaha mandiri (perusahaan ataupun koperasi
              ataupun peternak) dan peternak plasma/mitra dari pelaku usaha mandiri (Salim et al,
              2000; Saptana and Ilham, 2020). Jumlah Pelaku usaha GPS yang menghasilkan DOC
              PS  tidaklah  banyak  di  Indonesia.  Berdasarkan  Badan  Pusat  Statistik  menyebutkan
              jumlah  perusahaan  GPS  sebanyak  19  perusahaan,  perusahaan  PS  sebanyak  109
              perusahaan (naik 17,2% dibandingkan tahun sebelumnya, dan perusahaan budidaya
              ayam broiler atau FS sebanyak 97 perusahaan (naik 20,34% dari tahun sebelumnya) di
              tahun  2022  (BPS,  2022).  Hal  ini  menunjukkan  bahwa  perusahaan  pemegang  lisensi
                                                    55
   68   69   70   71   72   73   74   75   76   77   78